Wednesday, April 25, 2007

A Chaotic Mind of A Future Novelist

Jadi.. sudah jelas bahwa aku ditakdirkan untuk menjadi penulis, bukan pembicara. Walaupun lega karena kelas Public Speaking akhirnya berakhir, aku masih nggak bisa melupakan kekacauan total yang terjadi baik di dalam pikiran maupun yang keluar dalam ucapan waktu pidato demi nilai UAS tadi. Kira-kira begini kejadiannya...

Aku dipanggil. Aku celingak-celinguk untuk melihat apakah ada orang lain bernama sama karena tumben-tumbennya aku nggak dipanggil dengan nama depan seperti yang dilakukan semua dosen. Sialnya, kemudian aku dipanggil lagi dengan nama lengkap, yang berarti memang itu giliranku. Huhuhu. Dasar cewek desperate, jelas-jelas udah nggak ada lagi orang di kelas itu yang bernama sepertimu.

Aku pun mulai berpidato.. atau tepatnya, mengacaukan pidatoku.

“Selamat siang semuanya, pertama-tama saya ingin berterimakasih atas kesempatan yang diberikan kepada saya untuk berdiri di sini pada hari ini.”

Astaga, baru pembukaan dan aku sudah ngomong terlalu cepat. Dan apa itu terima kasih untuk kesempatan yang diberikan? Aku sama sekali nggak berterimakasih atas “kesempatan” untuk mempermalukan diri sendiri di depan kelas ini.

“Topik yang ingin saya bahas hari ini... blah blah blah.. adalah tentang ujian akhir nasional.. etc etc..”

So far so good.

“Seperti yang kita semua tahu bahwa standar nilai minimum ujian nasional tahun ini adalah...”

Nggak semua orang tahu, dudul. Bukannya kemaren udah diingetin jangan bilang “Seperti yang kita semua tahu”? Kasian kan yang nggak tahu? Kamu aja baru kemaren tahu.

“Penetapan nilai minimum ujian nasional ini berakibat buruk karena murid-murid jadi menganggap.. pelajaran.. belajar-mengajar selama 3 tahun ini..”

Pelajaran belajar-mengajar? Pelajaran belajar-mengajar??

“...seperti terjadinya kecurangan dan kebocoran soal-soal yang sering kita dengar akhir-akhir ini. Misalnya adanya kunci jawaban yang dikirim lewat SMS dan jual-beli soal ujian akhir. Karena itu tahun ini pelaksanaan ujian nasional penuh dengan kecurangan dan kebocoran soal seperti yang sering kita dengar akhir-akhir ini...”

Kenapa diulang lagi “kecurangan dan kebocoran soal seperti yang sering kita dengar akhir-akhir ini”nya, otaaaaak?

“Pentingnya... kenyataan bahwa ujian nasional menjadi sangat penting bagi kelulusan..”

Pelan-pelan. PELAN-PELAN. Ngomongnya cepet bangeeeet.. gak pake rem. Kalo pelan-pelan kan sempet mikir buat kata berikutnya, jadi nggak kacau-balau sembarang keluar gitu.

*nggak bisa ngerem karena panik* “Niat pemerintah untuk meningkatkan standar.. kualitas lulusan SMP dan SMU dengan.. dengan cara meningkatkan nilai minimum..”

Ngomong apa sih lu?

“..malah berakibat buruk, dibuktikan dengan makin meningkatnya jumlah siswa yang tidak lulus tiap tahunnya..”

Data nyolong dari mana, Mbak? Negeri asal-comot-fakta-dalam-keadaan-darurat-panik?

*sang dosen melambaikan tangan sebagai tanda aku sudah mengoceh non-stop dengan kecepatan penuh selama 4 menit*

*otak blank melihat isyarat tersebut, semua informasi melayang keluar seperti burung-burung terbang lepas dengan bahagia ke awan dari sangkar*

Udah empat menit?? EMPAT menit? Tadi kukira bakal cuma makan waktu 2 menit.. sialan. Masih banyak yang mo diomongin. Apalagi yang belom? APA?? CEPETAN.

“..bahkan di sekolah-sekolah di daerah dari 20-30 anak yang mengikuti ujian bisa hanya 1-2 anak yang lulus. Jadi..”

Kesimpulannya. Kesimpulannya. CEPAT.

“..menurut saya, lebih baik pemerintah kembali ke sistem yang dulu dan tidak lagi menggunakan ujian nasional sebagai patokan untuk kelulusan. Itu saja, terima kasih.”

ITU SAJA? ITU SAJA? Memangnya kamu Miranda Priestly di The Devil Wears Prada? Bukannya kemaren latihannya “Sekian, terima kasih”? Kenapa ITU SAJA??

Kelihatannya ada yang bertepuk tangan, tapi aku sudah nggak bisa dengar lagi. Sebodo.. yang penting no more Public Speaking for a while.

Hebat. Aku sangat iri dengan orang-orang yang dilahirkan dengan kemampuan bicara di depan umum. Kelas sialan itu bahkan nggak berisi lebih dari 10 orang.. SEPULUH ORANG! dan kepanikanku sudah seperti kaya disuru pidato kenegaraan.

Oh well. Guess I'm not cut out for this kind of job after all. I'm gonna stick to written stuffs for sure from now on.
Desperate Secrets - Secrets of my desperation in life from the past and present

THE DESPERATE

Alias: Cornelia
Age: 19
Gender: Female
Location: Indonesia
Birthdate: 03 Sept 1987
Star Sign: Virgo
Birthstone: Sapphire
Planet: Mercury
Element: Earth
Favorite Color: Lime Green
Obsession: Alias
Occupation: Freelance Translator
University Major: Integrated Marketing Communication
Live Journal: Private Eyes
Graphic Journal: Nocturne Love
Fan Fiction Journal: Three Decades
I am worth $2,045,034

Credits

Design by Ireth Halliwell
Hosted by Blogger
Site Content by Cornelia

Shoutbox



Free Website Counter
Free Website Counter

Powered 
by Blogger