Sunday, July 30, 2006

Sibling Rivalry

Aku dan sepupuku boleh dibilang suka bersaing. Kami nggak pernah menyatakannya secara langsung, tentu saja, bahkan kami sebenarnya akrab sekali, dan aku nggak ngerti gimana awalnya, pokoknya itu terjadi begitu saja. Awalnya aku punya HP Nokia 3310. Itu waktu aku SMP, kalau tak salah. Lalu tiba-tiba sepupuku ikutan punya HP, padahal waktu itu dia masih SD. Lupa tipenya apa. Aku kaget. Tapi ini belum apa-apa. Waktu aku ganti jadi 8310, tak lama kemudian tiba-tiba dia ikutan ganti jadi salah satu tipe yang berwarna (8310 kan layarnya masih hitam-putih). Kali ini aku benar-benar shock. Mengingat kakaknya saja, yang udah SMA, modelnya lebih kuno daripada dia. Lalu karena bosan dengan layar hitam-putih (dan pada tahap ini mulai merasakan aura persaingan juga), aku ganti lagi ke 6100, yang lebih modern daripada miliknya waktu itu.

Secara tidak sadar, karena merasa terus disaingi, aku jadi tidak sabar pengen memamerkan HP baruku itu. Benar saja, begitu melihatnya dia langsung terkagum-kagum dan suka sekali memainkannya. Aku tahu pola itu akan terulang kembali tak lama lagi... dan dengan tidak sabar menunggu gerakannya berikutnya. Tiba-tiba dia ganti ke.. er.. tak yakin tipenya apa, tapi yang ada kameranya itu, warna defaultnya putih kalau nggak salah. Pada detik ini aku sudah betul-betul yakin dia memang bermaksud menyaingiku. Akhirnya, beberapa waktu kemudian secara sambil lalu aku bilang ke papaku aku pengen juga 7610, tapi kok mahal ya? (Aku serius bilang mahal waktu itu, aku tidak bermaksud minta saat itu juga) Tiba-tiba saja...

Sore itu juga papaku ngajak aku ke Nokia untuk melihat Nokia 7610. Aku shock. Serius. Maksudku, aku tadi kan cuma bilang sambil lalu. Tiba-tiba dia sudah berniat membelikannya. Aku jadi ngeri membayangkan kalau aku shopaholic seperti Rebecca dalam Seri Shopaholic-nya Sophie Kinsella. Berbahaya sekali punya papa seperti itu kalau kau tukang belanja. Bagaimana kalau aku secara sambil lalu bilang pingin punya jet pribadi, atau pulau, dan tiba-tiba besoknya sudah ada? Benar-benar menakutkan.

Anyway, pada akhirnya kami memang membeli HP itu. Dan dengan puas aku memamerkannya ke sepupuku, yang bisa ditebak langsung histeris (well, oke, tidak histeris, tapi pokoknya aku bisa melihat dia sadar bahwa dia sudah kalah... lagi). Sampai hari ini dia belum memperbaharui HPnya lagi, dan terus terang kalaupun dia melakukannya, aku nggak berniat memperbaharui HPku karena aku cinta 7610. Lagipula aku sama sekali bukan tipe orang seperti itu kok. Astaga, sama sekali tidak. Aku bukan orang-orang sombong tukang pamer yang suka membanding-bandingkan berapa karat berlian mereka atau apa. Aku ganti HP kalau memang sudah ketinggalan jaman sekali. Maksudku, kalau aku masih bawa-bawa Nokia 3310 sampai sekarang, itu kan seperti hidup di zaman prasejarah. Dan oke, aku memang sedikit terpengaruh semangat bersaing itu juga, tapi itu kan dia yang mulai. Aku harus mengakui, aku orang yang ber-ego tinggi dan kalau ada orang yang coba menyaingi aku, aku pasti akan memenuhi 'tantangannya'. Tapi aku tidak pernah mulai duluan, sungguh. Dan aku juga nggak akan sampai batas nggak wajar hanya demi mengalahkan 'lawan'. Aku ini pada dasarnya agak pelit, lho.

Omong-omong, kakak sepupuku itu sekarang masuk universitas yang sama denganku juga. Entah karena memang pingin entah karena untuk menyaingiku (bukannya GR, hanya terlintas di pikiran saja, mengingat sejarah kedua keluarga selama ini. Kapan itu aku dibelikan layar komputer baru dan tak lama kemudian mereka juga punya. See? It runs in the family). Kalau untuk menyaingiku, jujur aku merasa kasihan. Karena aku SAMA SEKALI tidak bangga kuliah di sana. Bahkan, aku akan menyarankan agar semua orang jauh-jauh dari sana. Jadi aku benar-benar berharap itu bukan alasannya, karena itu berarti buang-buang uang saja.

Nah, tadi mereka datang. Dan ternyata sang sepupu punya potongan rambut baru. Dengan poni miring manis dan rambut sedikit bergelombang YANG SANGAT KUINGINKAN. Ini sama sekali bukan usaha menyaingiku, aku tahu, karena dia mana tahu kalau aku pingin potongan rambut seperti itu. Tapi aku merasa kesel juga, karena SETIAP KALI aku pergi ke salon, aku nggak pernah keluar dan merasa "Ini potongan rambut yang kuinginkan!" melainkan selalu bertanya-tanya "KOK BEGINI?!"

Apa sih yang salah denganku? Serius deh. Apa sih susahnya meniru potongan rambut di gambar? Aku sudah menjelaskan bahwa aku pingin poni miring untuk menciptakan penampilan baru. Tapi aku keluar dari sana dengan poni lurus sebatas jidat yang mirip kepala boneka anak kecil dari Cina. Tinggal tambahkan cepol saja. Lalu dulu waktu aku pingin rambut bergelombang, aku mendapatkan rambut SUPER KERITING yang mengerikan. Untung saja rambutku sangat lurus dan sangat mudah kembali ke asal walaupun pengeritingannya makan waktu berjam-jam. Potongan rambutku tidak pernah benar.

Dan tadi, sepupuku terlihat sangat manis dengan potongan rambutku (atau setidaknya yang seharusnya kumiliki). Kurasa kali ini aku merasa, walaupun dia justru tidak bermaksud begitu, akhirnya dia berhasil mengalahkanku.

Sunday, July 23, 2006

A Little Glimpse of The Past

[Sebuah adegan yang terjadi saat wawancara penerimaan beasiswa]

Mrs. N: Kamu pintar Bahasa Inggris? Sudah pernah tes TOEFL? Berapa nilainya?
Aku: Oh. Pernah dulu di sekolah. Tapi.. *maksudnya mau bilang nilainya nggak pernah dikasih tau untuk suatu alasan yang tidak dijelaskan*
Mrs. N: *memotong* Maksudnya nggak lulus gitu?
Aku: .............

Ingatkan lagi kenapa aku memilih universitas sombong nan suka merendahkan itu?

Saturday, July 22, 2006

The Neverending Search For True Love

Sebuah pemikiran yang terlintas di pikiran belakangan ini.. Tapi mengingat ini masalah perasaan yang dipikir menggunakan logika, mungkin kesimpulannya kacau juga. Tapi biar deh.

Sebetulnya kenapa kita yang remaja ini pengen punya pacar? Tentu, kita pengen disayangi dan segalanya (dan percayalah, memang hari-hari itu indah) tapii... dengan asumsi dia adalah jodoh kita, yang nantinya kita akan menghabiskan puluhan tahun hidup bersamanya.. bukankah lebih baik kalau ketemunya nanti-nanti saja, misalnya kalau sudah kerja, sudah mapan, sudah siap berkeluarga? Supaya meminimalisir kemungkinan rasa bosan juga (bayangin pacaran dari SMA atau universitas sampai tua? Atau.. *shivers* dari SD?) Memang sih, jadi mengenal satu sama lain dengan SANGAT baik, tapi.. gitu deh. Aku hanya berpikir, kalau aku baru bertemu Dia beberapa tahun lagi, itu berarti kami masih akan punya masa-masa 'baru' dan 'romantis' yang baru akan dimulai, dibanding dengan kalau aku sudah menemukannya sekarang.

Dan kalau kalian bilang, sekarang tidak usah bertemu Dia dulu asalkan punya pacar? Well, untuk apa? Disayangi boleh jadi perasaan yang paling indah, tapi patah hati adalah perasaan yang paling menyakitkan. Jadi, kalau bukan dengan Dia, untuk apa kita mencari-cari setengah mati? Untuk pengalaman? Rasanya satu pengalaman cukup. Meskipun jelas, kita nggak bisa tahu apakah itu benar-benar, sungguh-sungguh Dia dengan gampang (Tapi sebetulnya, untuk tahu kalau itu BUKAN cukup gampang. Sudah terbukti). Tapi ini membawaku ke poin pertama yaitu, daripada buru-buru dan salah terus, lebih baik kita menunggu saja. Toh nggak akan lari ke mana-mana, ya kan? Dan kalau patah hati sekali itu menyakitkan, aku jelas nggak kepingin mengalaminya beberapa kali lagi. Tidak, terima kasih.

Jadi, begitulah.

Aku akan menunggu.

Saturday, July 01, 2006

So Many Things Are Left Unsaid

Kesepuluh surat pendek ini ditujukan untuk sepuluh orang yang kukenal. Kalau kamu merasa salah satunya ditujukan untukmu, aku harap perasaanmu benar. Kalau kamu tidak merasa salah satunya ditujukan untukmu, tidak apa-apa, karena kalau aku benar-benar ingin kamu tahu, aku pasti sudah mengatakannya langsung padamu.

1. You're one of my best friends. Even though there were much misunderstanding and small tensions throughout our relationship, I love you very much and I honestly pray for your happiness. You deserve it. I know you seem to be always happy in the outside but I know deep down you have lots of concerns and sadness and disappointment. I truly wish that you can find someone who loves you for who you are, because you are an awesomely sincere person.

2. A long time ago, we used to be friends. But people change, and I guess so did we. You are one chain that is lost from our circle. I don't know where you are now, and we haven't talked for so long, and your life must've changed so much since we last spoke. I hope that you still have a wonderful life and that one day we can somehow bring the days where there were just the five of us.

3. You are someone I met from the twist of fate. We were never close, but a weird coincidence made us meet each other in the most awkward situation. Eventually things got even weirder, more coincidences, and we, who used to be strangers, suddenly became close because of the things we both had to go through. We suddenly started helping each other and understood one another better. We're still no best friends, but I'm really thankful to have known you anyway. You're unique, and in so many ways very similar yet very different from me in our little complex world. I also knew a lot of stuff that was really useful for me from you. You're a friend and a family.

4. When we first met, I was doubtful I was going to like you. I even sort of hated you from the first impression. Things were weird between us but who knew that eventually we'll become this close? We're a family now, and I care about you so much. Thank you for not giving up on me. There are things about you that make me look up to you.

5. I seriously think we could be perfect for each other. Even though we both once belonged to someone else. You're my type, and I think I'm your type too, but clearly you never have the same feeling as mine. That's okay, this relationship is very questionable anyway. There are so many flaws in it. And obviously you still can't forget her. Maybe one day we could try it, but until you want to do it, I won't keep my hopes high. Until that day, I'll stay as one of your best friends.

6. You are an awesome girl and I look up to you, not just because of your age but also because the way you think. I think we have many things in common and I would very much like to be your best friend. I feel that you're an ideal candidate for my new best friend. But hey, let's just see how things go between us. You know how hard it is for me to open up to people.

7. You are cool. And I love you, sis. Keep rocking!

8. You are also one of my best friends. I know that sometimes receiving our help makes you feel uncomfortable, but know that it's what best friends are for. Let's just cherish all the days we get to share together. I wish you the best of luck in life. With the drive and hardwork as much as you have, you'd go far in life.

9. You are forgiven, but not forgotten. I guess I just need some closure. And I damn deserve it.

10. Whenever you are around, you make me laugh all day long. Seriously, I don't know how you do it, but you always give me the best days of my life. I want us to be together more. I can't stop feeling happy around you. Don't ever change, and I want to be your best friend forever.
Desperate Secrets - Secrets of my desperation in life from the past and present

THE DESPERATE

Alias: Cornelia
Age: 19
Gender: Female
Location: Indonesia
Birthdate: 03 Sept 1987
Star Sign: Virgo
Birthstone: Sapphire
Planet: Mercury
Element: Earth
Favorite Color: Lime Green
Obsession: Alias
Occupation: Freelance Translator
University Major: Integrated Marketing Communication
Live Journal: Private Eyes
Graphic Journal: Nocturne Love
Fan Fiction Journal: Three Decades
I am worth $2,045,034

Credits

Design by Ireth Halliwell
Hosted by Blogger
Site Content by Cornelia

Shoutbox



Free Website Counter
Free Website Counter

Powered 
by Blogger